Menpora: Sepakbla Bukan Ladang Bisnis Semata

0
Foto: Antara

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Republik Indonesia, Imam Nahrawi menegaskan bahwa sepak bola Indonesia adalah milik masayarakat, bukan milik perseorangan atau bisnis semata, Sabtu (30/4).

Hal itu diungkapkan Imam dalam opening ceremony Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 yang dihelat di kota Jayapura Jum’at lalu dan dihadiri juga oleh Presiden RI, Joko Widodo.

Dilansir dari Indosport, Menpora Imam Nahrawi mengatakan bahwa sepakbola itu melibatkan jutaan orang termasuk pemain, pelatih, wasit hingga suporter.

“Ada jutaan orang yang terlibat dalam sepakbola, dari pengurus, pemain, wasit hingga suporter. Dan secara berkala sepakbola juga mewakili nama Indonesia di kancah internasional. Jadi cukup jelas kalau sepakbola ialah milik masyarakat, bukan milik pribadi,” tegasnya.

Beliau menambahkan para pelaku bisnis yang terlibat dalam sepakbola indonesia harus saling berkomunikasi agar kepentingan publik bisa selaras dengan kepentingan pribadi  demi masa depan persepakbolaan Indonesia yang cerah.

“Penting agar kepentingan publik itu terwakilkan tanpa harus mengorbankan hal-hal pribadi, dalam hal ini para pebisnis olahraga yang terlibat dalam industri sepakbola. Keduanya sama-sama penting, keduanya harus terus berkomunikasi agar tidak ada kebuntuan-kebuntuan lagi di masa depan,” tambahnya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa prestasi sepakbola yang jeblok akhir-akhir ini adalah karena para pemangku kepentingan (PSSI dan Pemerintah) tidak bisa menjalin komunikasi dan bekerjasama dengan baik.

“Dalam hal ini PSSI, mau bekerja sama dengan pemerintah. Ketika stakeholder sepakbola menjauhi negara, kerumitan-kerumitan biasanya akan segera bermunculan. Itulah yang terjadi dalam sepakbola Indonesia selama 1,5 tahun terakhir ini,” tegas Imam.

Masyarakat mungkin sudah dibuat gerah dengan konflik antara pemerintah dengan PSSI yang berujung pada pembekuan PSSI dan jatuhnya sanksi FIFA untuk sepakbola Indonesia. Tetapi menurut Imam Nahrawi perseteruan tersebut dinilai masih sangat wajar dan konflik-konflik dalam pengelolaan sepakbola tidaklah sepenuhnya jelek.

“Lihatlah apa yang terjadi sejak 2010. Sengketa pengelolaan liga sepakbola, misalnya, membuat posisi klub sebenarnya semakin kuat. Nilai hak siar justru semakin kompetitif, dari tahun ke tahun angkanya semakin meningkat,” tutup Menpora.