Agama Konvensional Vs Agama Modern (Konsumerisme 2)

0
Agama Konvensional Vs Agama Modern (Konsumerisme 2)
Ute Nurul Akbar

Supernews.id, Makassar – Sosok cantik tiba- tiba saja muncul setengah telanjang di hadapan seorang lelaki yang dimulutnya terselip sebatang rokok. Sang perempuan dengan tubuh moleknya yang setengah telanjang segera menyuguhkan pemantik api pada lelaki itu. menyalalah api yang membakar ujung rokok lelaki itu, dengan gerakan gemulai sang perempuan lalu melakukan gestur yang semakin menggoda. Lalu berkata. Tunjukkan merahmu!

Ilustrasi ini bukanlah iklan kampanye partai politik, tapi sebuah tayangan komersil dari sebuah produsen rokok yang sajikan tanpa memikirkan bahwa pemirsanya bukan Cuma mereka yang layak melihatnya. Tapi juga disaksikan oleh jutaan pemirsa dibawah umur yang belum pantas disajikan tontonan seperti itu. apakah itu poinnya yang akan kita bahas? Yah. Tapi itu Cuma bagian terkecil dari sekelumit kebohongan dan sihir yang coba dicangkokkan dalam pikiran kita lewat Agama baru yang bernama Televisi.

Agama layaknya yang kita pahami tentu berkaitan dengan kepercayaan, iman dan kepatuhan kita menjalankan semua perintah Tuhan yang ada didalamnya. Dalam iman saya sebagai seorang muslim, agama yakni Dinul Islam (inna diina indallahil Islam) mencakup lima rukun wajib untuk saya jalankan yakni Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat, dan berhaji. Tapi sekali lagi buka ini yang akan kita bahas.

Sehari- hari tanpa kita sadari telah menciptakan sekaligus menyembah Tuhan dan agama baru. Yakni Kapitalisme sebagai Tuhan dan Televisi sebagai agama barunya bersama deretan nabi- nabi baru yang sangat kita patuhi melebihi patuhnya kita pada Nabi yang sesungguhnya. Nabi- nabi baru itu adalah deretan Iklan dan Tayangan yang penuh dengan anjuran yang ditujukan pada manusia modern.

Kita lebih patuh untuk mengikuti perkembangan trend yang dicangkokkan dipikiran tentang deretan produk- produk baru yang sekali lagi belum tentu kita butuhkan. Kita sungguh rela menanti jam tayang sebuah sinetron yang isinya mempertontonkan kemewahan, gaya hidup hedonis. Kita rela menyiapkan waktu ber jam- jam untuk sekedar menonton sebuah kontes bernyanyi yang isinya kadang mendramatisir keadaan yang awalnya gembira tiba-tiba dipaksakan untuk menjadi sendu dan termehek-mehek demi untuk terus menjaga rating acara tersebut.

Tak jarang mata kita berderai air mata disebabkan karena menyaksikan penggalan acara yang di desain memang untuk membuat kita menangis. Yah, air mata kita begitu mudah berderai oleh tontonan yang sudah disusun sedemikian rupa. Sementara dikehidupan nyata, tak jauh dari rumah kita terdapat orang yang lebih bisa membuat air mata kita berderai, tapi sayang bukannya air mata yang berderai, tapi malah kata- kata umpatan dan hujatan serta kesombongan yang keluar dari diri kita. Itulah luar biasanya Agama baru itu. Televisi.

Begitu kuat dan dahsyatnya Agama televisi itu, kita bahkan rela untuk tidak bergeming dari tempat duduk kita, padahal yang tampak dihadapan kita adalah kebohongan dan pembodohan. Kita begitu ikhlas untuk dibodohi. Bagaimana mungkin kita bisa percaya pada sebuah iklan mobil yang bukannya menampilkan kualitas, tapi malah menampilkan lagi- lagi sosok perempuan hampir telanjang yang naik diatas kap mobil itu dan setengah baring dan gestur yang dimaksudkan memancing mata untuk memandang perempuan itu? mana yang ingin diperlihatkan? Kualitas produk mobil itu ataukah iklan itu menjual perempuan itu?.

Andai kita menggunakan akal sehat, maka tentu iklan tidak akan dibuat secara terus menerus. Sebab semassiv apapun iklan mereka, kita tetap menggunakan akal sehat untuk mengontrol hasrat berbelanja, dan akhirnya akal sehatlah yang menang.

Dan bagaimana kabar Agama Konvensional kita? Agama Konvensional menuju ambang kematiannya dipisau Zaman Modern yang membabi buta. Kita tetap menjalankan ajarannya tapi disisi lain, kita mendua dengan kepercayan dan kepatuhan kita pada Agama Televisi. Televisi yang mendakwahkan tentang Ponsel terbaru, mewarnai sholat kita hingga ke mesjid. Ponsel terbaru kita lebih dicari ketimbang tasbih. Al-qur’an menjadi tentengan wajib namun sayang, waktu untuk mempelototi medsos diponsel kita lebih banyak dibanding membaca Al-qur-an.

Ayat- ayat suci Al-qu’an tergantingkan oleh posisi deretan ayat- ayat cinta dan kegalauan yang terdapat dimedsos.  Agama Konvensional yang mengajarkan hidup bermasyarakat, bersosial, berdampingan secara kolektif, pun tergantingan oleh Agama Modern yang sangat Individualis. Mengarahkan kita pada sikap egois, mendahulukan kepentingan pribadi, dan nafsi- nafsi.

Akhir dari tulisan sederhana ini penulis mencoba mengajak kita untuk sedikit meluangkan waktu untuk sekedar meratapi kebodohan kita masing- masing yang selama ini larut dalam fatwa- fatwa sesat kapitalisme. wallahu a’lam. selamat berpuasa. (*Ute Nurul Akbar)

loading...