Pancasila Sebagai Sindrom Kebangkitan Bangsa

0
Pancasila Sebagai Sindrom Kebangkitan Bangsa

Supernews.id, Makassar – Tanggal 1 Juni 1945 merupakan waktu dimana konsepsi dari dasar negara lahir di bumi Nusantara ini. Dari sinilah, wacana tentang dasar dari sebuah bangsa Indonesia menjadi titik central kajian dari para tokoh dan pemuda Indonesia pada waktu itu.

Adalah Ir Soekarno, bapak Proklamator Republik Indonesia sekaligus presiden pertama republik ini yang mengemukakan akan pentingnya sebuah dasar dari bangsa dan negara sebagai sumber pemersatu yang kemudian disempurnakan dan ditetapkan sebagai dasar negara pada tanggal 18 agustus 1945 atau sehari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Pancasila adalah wujud dari kebhinekaan di negeri ini, karena pancasila lahir dari buah pemikiran anak bangsa. Pancasila adalah wujud dari wajah indonesia yang tidak menginginkan adanya ideologi asing di negeri ini. Pancasila sebagai dasar negara menjadi pemicu akan semangat nasionalisme religius untuk keutuhan bangsa dan negara.

Seiring berjalannya waktu, pergantian era kepemimpinan dari masa ke masa, nilai luhur pancasila seolah hanya dijadikan sebagai simbolik tanpa menerapkan kandungan yang terdapat pada tiap “sila” dalam butiran pancasila.

Banyaknya pejabat yang menyelewengkan jabatannya menjadi sebuah pertanda dan bukti bahwa pancasila seolah hanya menjadi hiasan yang terbingkai dan dipajang pada dinding dinding bangunan yang megah.

Kasus korupsi misalnya, menjadi hal yang tabu bahkan seolah membudaya di negeri ini. Padahal ini sangat bertentangan dengan asas dan nilai yang terkandung pada pancasila. Ini menjadi warning dan menjadi permasalahan bagi pejabat yang katanya menjadi wakil masyarakat dalam menjalankan tugas sebagai pejabat negara.

Belum lagi kasus perpecahan antara suku di negeri ini. Hadirnya “pertumpahan darah” dikarenakan perbedaan keyakinan dan kebudayaan menjadi ceritera tersendiri perjalanan bangsa Indonesia.

Stabilitas keamanan negara pun menjadi Pekerjaan Rumah bagi pejabat negara dikarenakan adanya berbagai teror yang terjadi baik terhadap bangsa Indonesia maupun terhadap masyarakat bangsa Indonesia. Kasus bom bunuh diri misalnya yang baru – baru saja terjadi di kampung melayu menjadi pertanda adanya teror yang mengancam keamanan dan ketentraman masyarakat Indonesia.

Dan parahnya lagi, banyak dari kalangan pemuda seolah tak peduli dengan nilai yang termaktub dalam tiap – tiap kalimat dari kelima sila dalam pancasila. Pemuda yang menjadi tumpuan masa depan bangsa dan negara seolah larut dalam euforia kemoderenan yang kini menghinggapi negeri pertiwi ini.

Narkoba misalnya masih menjadi ancaman serius bagi pemuda sebagai generasi penerus bangsa. Statistik dari BNN tahun 2016 membuktikan bahwa 22 persen pemakai Narkoba berasal dari kalangan pemuda dan pelajar.

Lantas, dimanakah posisi pancasila sebagai sindrom bagi bangsa Indonesia dan Masyarakat Indonesia??

Menjadi hal yang naif manakala kita menafikkan nilai luhur pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menjadi sebuah kesalahan fatal bagi kita ketika pancasila hanya dijadikan hiasan dinding tanpa memaknai Nilai luhur yang terpatri dalam setiap butirnya.

Back to Pancasila, menjadikan pancasila sebagai simbol kebangkitan dalam melawan kebobrokan yang terjadi pada bangsa ini adalah harga mati dalam upaya memajukan bangsa dan negara.

Momentum 1 juni menjadi sebuah spirit bagi kita untuk kembali mengaktualkan dan mengkontekstualisasikan nilai luhur dari pancasila sebagai dasar dari negara, menjadikan nilai luhur pancasila sebagai dasar pemikiran kita dalam menjadikan Indonesia yang berkebangkitan. (*Akbar idris)

loading...