ISIS Bantai Fans Real Madrid Saat Nobar Final Liga Champions

0
Foto: Google Images

Kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) kembali melakukan aksi teror. Kali ini sasrannya adalah para penggemar Real Madrid yang sedang melangsungkan acara nonton bersama klub favoritnya yang tampil di final Liga Champions melawan Atletico Madrid, Senin (30/5).

Insiden berdarah tersebut terjadi di Baakouba, Irak saat para fans Real Madrid tengah menyaksikan laga final Liga Champions. Real Madrid bertemu dengan rival sekotanya Atletico Madrid yang akhirnya berakhir dengan kemenangan Los Blancos lewat drama drama adu penalti.

Insiden terjadi sesaat sebelum babak adu tos-tosan dimulai. Para militan ISIS masuk ke dalam kafe yang menjadi lokasi nonton bareng, sejurus kemudian mereka menembaki ke arah orang-orang di dalam kafe secara membabi buta.

Sedikitnya 12 fans Real Madrid berusia antara 18-30 tahun meregang nyawa ditembus timah panas teroris. Insiden maut ini mirip dengan peristiwa serupa sebelumnya yang terjadi pada 13 Mei lalu.

Saat itu, para fans El Real juga tengah menyaksikan aksi Cristiano Ronaldo dan kolega sebelum diberondong senjata oleh ISIS. 16 orang fans Madrid tewas dari total 20 orang yang kehilangan nyawa saat itu.

“Kejadian ini mirip dengan serangan ISIS pada fans Madrid awal bulan sebelumnya. 12 orang tewas dan 8 orang terluka sudah dibawa ke rumah sakit,” kata Presiden Real Madrid fans club Baakouba, Ziad Albidani kepada situs berita AS.

Sementara itu, Presiden Real Madrid fans club Irak, mengatakan bahwa dua peristiwa berdarah pada fans Madrid di Irak telah menyulut kekhawatiran dan membuat perasaan fans Real Madrid terluka. “Mereka menghancurkan kebahagiaan seluruh fans Madrid di malam yang spesial,” ulasnya

Dilansir dari rt.com, alasan ISIS menyasar fans Real Madrid karena mereka menganggap sepakbola bukanlah bagian dari agama Islam.

“Mereka tidak suka dengan sepakbola. Mereka berpikiran bahwa, sepakbola bertentangan dengan agama Islam. Ini tragedi yang mengerikan,” kata salah satu warga Irak yang tak mau disebutkan namanya.