Coto Makassar Senen, Kuliner Khas Makassar Yang Nagih di Lidah

0

Supernews.id, Makassar – “Kau boleh acuhkan diriku dan anggapku tak ada… Tapi takkan merubah perasaanku, kepadamu”. Bait lagu itu mengalun serak disudut jalan Kramat Jati. Suara sumbang pengamen dekil itu dengan gitar kecil ditangannya coba menghibur pelanggan warung Coto Makassar Senen satu-satunya di Ibukota Jakarta.

Siang itu dituntun oleh Bang Kurni, pegawai Mess Pemprov Sulsel. Saya menyempatkan singgah mencicipi makanan khas Makassar itu. Makanan yang pada dasarnya, baru dua hari ini kutinggalkan di Makassar. Tetapi tetap saja buatku penasaran karena pasti ada beda rasa, racikan khas dari masing-masing pemiliknya. Begitulah Coto melegenda dalam dunia kuliner Makassar.

Jakarta sebagai negara megapolitan pada faktanya telah diserbu oleh berbagai korporasi raksasa dalam dunia bisnis, pun demikian dengan bisnis kuliner. Resto-resto besar berdiri megah mendampingi gedung-gedung menjulang tinggi, hotel-hotel berbintang pun demikian, segala jenis kebutuhan pengunjung lengkap berderet disekitaran lobi hotel. Restoran, minimall, tempat refleksi hingga mini barr, semua tentu saja untuk memanjakan pengunjung agar tak lagi beranjak dari lingkungan hotel.

Praktis penjual Coto Makassar di emperan jalan itu seakan terlupakan, diacuhkan. Meskipun sumbang, tapi bait lagu itu cukup pas ditelinga menemaniku menghirup rasa kuah khas tak tergantikan di lidah lokal ini, setelah dicampur bawang goreng, kacang goreng ditambah ketupat dan gogos, dengan sekejap semangkuk telah habis bersama dengan selesainya bait lagu Once yang dinyanyikan pengamen itu.

Kutuliskan kenangan tentang…
Caraku menemukan dirimu…

Kusandarkan punggungku, mengusap perutku yang membuncit, mengambil sebatang rokok country merah yang kubeli diseberang jalan. Pengamen pun berganti lagu, kini alunan lagu Virgoun menemani kepulan asap putih itu, sembari menebar pandangan kedinding kiri, di sana berderet potret Kota Makassar tempo doeloe. Terima kasih Bang Kurni telah mengantarku menemukan dirinya, Warung Coto Makassar Senen bertuliskan tidak membuka cabang. Konon Pak JK pun kerap kali berkunjung kesini.

Puas menikmati rasanya, matahari telah mulai tergelincir turun. Sayapun diajak beranjak dari tempat itu, masih ada urusan lain yang mesti diselesaikan. Bergegas cepat sebelum petang datang, malam harinya sudah harus terbang kembali ke Makasaar.

Pengamen pun menutup perjumpaan kami dengan lagu dangdut, seakan memahami begitu senangnya diriku saat itu.

Bukan ku menolakmu…
Tapi pikir-pikirlah dulu…
Karena engkau dan aku sungguh jauh berbeda…

Coto Makassar di tengah hiruk pikuk Jakarta, bagi Bang Kurni rasanya menggiurkan. Sungguh jauh berbeda dari racikan makanan Jawa. Tetapi sayang masih tertahan di sudut lorong, karena si Daeng penjual Coto itu bukanlah pemilik bisnis raksasa yang mampu bercengkrama dengan leluasa bersama pejabat elit negeri ini.

Penulis : Nasrul Iswadi Bundu, Kramat Jati, 8 Desember 2017

loading...