Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Meski Ayah Kandung & Ayah Tiri Melukaiku, Kutetap Cinta Keduanya


Tak semua anak bisa beruntung terlahir dan memiliki keluarga yang sempurna. Ada yang mendapat ujian dan berbagai permasalahan yang datang silih berganti. Meski begitu, cinta akan selalu ada saat kita mau bersabar dan tetap bertahan.

Saat itu, Ibu sedang mengandung anak kelimanya. Anak itu adalah aku. Sesuatu yang sangat tidak mengenakkan terjadi pada saat itu. Ibu mengetahui bahwa Ayah telah menduakan hatinya pada wanita lain. Namun dengan besar hati Ibu tidak mempermasalahkan hal itu. Ia hanya ingin agar keluarga kecil yang ia dan Ayah bangun menjadi harmonis. Ibu seolah membutakan mata dan hati dengan apa yang Ayah lakukan padanya.

Namun semua berubah saat aku lahir. Ayah mulai jarang pulang ke rumah. Setiap hari Ibu berusaha membuatku berhenti menangis. Aku yang merindukan sosok Ayah, kala malam tiba hanya ditemani oleh Ibu dan kakak-kakakku. Sejak itu, Ayah tak pernah lagi menafkahi kami. Hingga pada akhirnya hari itu datang juga. Ayah lebih memilih wanita itu ketimbang Ibu dan kelima anaknya. Ia pergi meninggalkan kami semua. Sebagai sesama wanita, aku seperti bisa merasakan sakit yang dirasakan Ibu kala itu. Tapi aku tahu Ibu adalah orang yang paling tegar dengan semua masalah yang menimpanya.


Menginjak satu tahun usiaku, Ibu kembali membuka hatinya pada pria lain. Senyum mulai terpancar di wajah cantiknya. Ibu sudah tak memikirkan lagi kejadian-kejadian pahit yang pernah dialaminya. Yang Ibu tahu bahwa anak-anaknya membutuhkan sosok Ayah dalam tumbuh kembang mereka. Sepertinya ia juga orang yang baik, hampir setiap hari Ibu selalu tertawa dibuatnya. Ibu dan calon Ayah baru kami akhirnya menikah. Namun mereka tidak dikaruniai satu orang anak pun.

Saat aku mulai duduk di bangku sekolah dasar, sikap Ayah baru kami mulai berubah. Ia menjadi kasar dan ringan tangan. Tak jarang saat aku tidak mau makan, Ayah memukulku. Entah itu dengan rotan, kemoceng atau pun dengan tangannya sendiri. Sesekali Ibu hanya menatapku lirih, lain waktu Ibu terkadang membelaku. Suatu hari Ibu yang sudah tidak tahan dengan kekasaran suami barunya, mencurahkan isi hatinya padaku.

Saat itu aku masih duduk di kelas 5 SD. Suatu hari Ibu bilang padaku, “Nak, kamu tahan aja ya rasa sakitmu ini. Ibu percaya kamu anak yang kuat. Ibu yakin kamu pasti jadi seorang anak yang sukses dan berbakti pada orang tua meskipun harus melewati ini semua. Ayah sebenarnya adalah orang yang baik. Ia berbuat begini karena terlalu banyak pikiran." Aku tahu karena saat itu Ayah belum mempunyai pekerjaan tetap. Ia tentu merasa seolah tidak bertanggung jawab karena tidak bisa memberi nafkah pada istri dan anak-anaknya


Saat aku menginjak usia 10 tahun, Ayah mulai bekerja sebagai kepala gudang di salah satu perusahaan pengimpor makanan. Walaupun ia sudah bekerja, namun sikap kasarnya masih tetap ada. Kemoceng dan gagang sapu adalah makanan sehari-hari untukku jika Ayah sedang ada masalah di kantor atau jika hasil ujianku jelek. Lagi-lagi aku teringat pada pesan Ibu waktu itu. Aku meyakinkan diri untuk tidak mengambil hati apa yang telah Ayah lakukan padaku. Di sisi lain, Ayah tak jarang menunjukkan kasih sayangnya padaku. Jika hasil ujianku bagus ia menepuk-nepuk kepalaku sambil memuji bahwa aku anak yang pintar. Atau menguatkan aku saat nilai peringkatku turun. Aku pun membuktikan padanya dan Ibu bahwa sikap kasar Ayah tak berdampak buruk padaku. Yaitu dengan menduduki peringkat satu terpandai di seluruh sekolahku. Aku tahu Ayah bangga padaku. Begitu juga Ibu.

Seiring berjalannya waktu, aku pun tumbuh menjadi gadis dewasa. Sedikit demi sedikit Ayah mulai berubah menjadi lebih lembut. Aku ingat saat itu usiaku menginjak 17 tahun saat Ayah sudah mulai tak ringan tangan seperti dulu. Setelah lulus sekolah aku mulai mencari pekerjaan. Walaupun dengan gaji yang terbilang sedikit, namun aku harap bisa membantu Ibu untuk mengepulkan dapurnya.

Di usiaku yang menginjak akhir dua puluhan, tak ragu aku mengenalkan seorang pria padanya. Seorang pria yang suatu saat nanti akan menggantikan sosoknya. Seorang pria yang sejak dulu aku selalu berharap akan sebaik dan sebijaksana Ayah. Aku tahu bahwa dulu, saat aku kecil, Ayah selalu bersikap dingin atau kasar padaku. Tapi aku yakin itu bukan karena ia jahat, melainkan memang seperti itulah cara ia mengajarkanku tentang artinya kehidupan. Dan doaku terkabul sudah, pria yang akan menemani hari tuaku nanti adalah pria yang sama bijaksananya seperti Ayah.


Mendekati hari pernikahanku, aku teringat akan Ayah kandungku. Walau aku tahu ia jarang menanyakan kabarku tapi aku yakin di lubuk hatinya yang terdalam Ayah merindukanku. Terkadang aku ingin membiarkan egoku untuk tidak memberitahukan perihal pernikahanku padanya. Aku berpikir, buat apa aku memberitahunya, toh, dulu ia tak menginginkan aku atau kakak-kakakku. Lagi-lagi aku tak kuat menahan perihnya peristiwa itu, dengan berpikir seperti ini saja aku tahu bahwa aku belum bisa berpikir dewasa. Namun akhirnya calon suamiku membuka mata dan hatiku untuk memaafkan perbuatan Ayah kandungku dulu.

Hingga suatu hari aku memberanikan diri untuk menemuinya. Memberitahukan bahwa anak gadisnya yang dulu sempat ia tinggalkan akan menikah dalam waktu dekat. Meminta izin dan doa restu darinya. Tak disangka, Ayah menyambutku dengan peluk hangatnya. Air mata kebahagiaan meluncur dari matanya yang sudah terlihat sayu di usia senjanya.

Saat itu masih terngiang di telingaku perkataannya padaku, “Nak, Ayah minta maaf pernah meninggalkanmu di saat engkau sangat membutuhkanku. Ayah salah karena terlalu memikirkan ego dan kebahagiaan Ayah sendiri. Hingga dengan tak punya hati meninggalkan keluarga kecil yang sudah susah payah Ayah bangun bersama Ibumu. Tapi sekarang Ayah sadar, mungkin Ayah tak punya banyak waktu untukmu lagi. Namun, maukah engkau memaafkan Ayah, Nak?”

Tak pelak air mata merembes deras di pipiku. Aku tak kuasa menahan haru mendengarnya meminta maaf dariku. Tentu saja aku memaafkannya. Tak pernah sekalipun aku menyalahkannya atas semua peristiwa yang telah kualami. Semua ini adalah kehendak Tuhan, aku harus mengalami pahit manisnya kehidupan. Juga merasakan memiliki dua orang Ayah yang sama-sama hebat.


Ayah memberikan doa restunya padaku. Dan yang lebih membuatku bahagia adalah, Ayah memberikan posisinya pada Ayah keduaku (aku tak suka menyebutnya dengan Ayah tiri) untuk mengantarkanku berjalan menuju altar nanti. Ayah bilang bahwa itu sudah menjadi hak Ayah keduaku, karena Ia pun berjasa besar dalam perannya membesarkanku.

Hingga akhirnya hari itu tiba, Ayah keduaku mengantarkan aku ke depan altar pernikahanku. Untuk menemui seorang pria yang Ayah yakini bisa membimbing dan mengayomiku. Walaupun Ayah kandungku tak datang, namun aku yakin di dalam lubuk hatinya terselip doa kebahagiaan untukku. Terima kasih Ayah, aku bangga memiliki Ayah seperti kalian. Aku sayang Ayah, aku sayang kalian berdua.

Source : Vemale.com